Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label budayakaro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budayakaro. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Januari 2023

APA itu mbaba belo selambar (adat karo)


Mbaba Belo Selambar yang berarti "membawa sirih selembar" adalah salah satu ritual sebelum pernikahan dalam suku Karo. Ritual ini merupakan bagian dari rangkaian ritus Pernikahan adat Karo.  Ritual ini dilaksanakan baik oleh pihak perempuan, maupun pihak laki-laki.

Dalam suku Karo, ritual pernikahan diawali dengan masa peminangan. Masa ini dalam bahasa Karo disebut mbaba belo selambar. Dalam ritual ini pula, peran laki-laki lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Maba belo selambar merupakan suatu ritual meminang seorang gadis.

Peminangan ini dilakukan oleh keluarga dari pihak laki-laki. Peminangan ini dilakukan untuk menanyakan kesediaan dari gadis tersebut dan kelurganya. Keluarga yang dimaksud tidak hanya orangtuanya, tetapi juga sembuyak, anak beru, singalo bere-bere, dan kalimbubu. Pada zaman dahulu acara mbaba belo selambar biasanya dilakasanakan pada malam hari setelah makan malam selesai.

Dalam acara Mbaba Belo Selambar, dari pihak laki-laki maupun perempuan harus dihadiri oleh beberapa pihak yang wajib untuk menghadiri ritual tersebut. Pihak yang harus hadir adalah laki-laki yang melamar, orang tua laki-laki, sembuyak, senina sikaku ranan, kalimbubu singalo ulu emas, dan anak beru. Sedangkan bagi pihak perempuan, yang harus hadir adalah gadis yang dilamar, orang tua, sembuyak, senina sikaku ranan, kalimbubu singalo bere-bere, singalo perbibin, dan anak beru.

Demikian ulasan yang dapat saya bagikan semoga bermanfaat.terima kasih

TATA CARA mbaba belo selambar (adat karo)



    Mbaba Belo Selambar diawali dengan penyerahan kampil persentabin oleh pihak laki-laki (pelamar). Pihak laki-laki ini harus menyiapkan enam buah kampil tersebut. 

    Isi dari kampil adalah rokok dan peralatan makan sirih.  Lima kampil yang telah disediakan pihak laki-laki diserahkan kepada pihak perempuan. Satu kampil lainnya diberikan kepada kalimbubu singalo ulu emas.  

    Ritus Mbaba Belo Selambar dapat dikatakan selesai apabila sudah ada kesepakatan dan kesediaan dari pihak perempuan terhadap lamaran yang telah diberikan oleh pihak laki-laki. Lalu, di dalam ritus ini dilakukan  ersinget-singet. Dalam ersinget-singet, kedua belah pihak membicarakan hal-hal berikut berikut:

    1. Gantang Tumba atau unjuken (Tempat nasi) yang diserahkan kepada keluarga dari pihak perempuan adalah:
    ○Gantang Tumba atau unjuken.
    ○Rudang-Rudang.
    ○Senina Sinaku Ranan.

    2. Penyerahan kepada kalimbubu tiga serangkai (telu sada dalanen), berupa:
    ○Bere-bere.
    ○Perkempun.
    ○Perbibin.

    3. Penyerahan kepada Anak Beru, yakni perkamben.
    4. Penyerahan ulu emas kepada kalimbubu singalo ulu emas.
    5. Hari pelaksanaan pesta pernikahan.
    6. Pertemuan antara pengantin dengan orang tua.
    7. Acara pesta.
    8. Tentang acara landek.
    9. Tentang undangan.

    Setelah ersinget-singet selesai dibicarakan, maka selanjutnya akan diadakan kesepakatan bersama dengan cara melakukan sijalapen ( biasanya dengan keluarga dekat), yang terdiri dari:

    1. Siapa yang akan menikah (si empo atau si sereh).
    2. Orang tua (simupus).
    3. Sembuyak. Senina ku ranan.
    4. Anak beru tua.
    5. Anak beru cekoh baka tutup.
    6. Anak beru menteri.

    Setelah acara sijalapen selesai, anak beru pihak laki-laki menyerahkan pundun dan penindih pudun. Pundun dan penindih pundun adalah daun nipah yang diikat. Kedua benda ini adalah tanda kesepakatan yang telah tercapai.Kedua benda ini diberikan kepada pihak perempuan sebanyak lima buah. Isi dari ini kedua benda ini merupakan tentang pelaksanaan nganting manuk.

    Kamis, 06 Februari 2020

    TAHAPAN tahapan dalam adat pernikahan karo

    Dalam pernikahan adat Karo, ada tiga tahapan yang harus dijalani oleh calon pengantin dan keluarganya. Adapun tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

    1. Persiapan Kerja Adat

    Sitandan Ras Keluarga Pekepar

    Tahapan ini adalah tahapan perkenalan antara keluarga kedua belah pihak yang akan melangsungkan pernikahan. Tahapan ini juga saat bagi keluarga melakukan tahap mbaba belo selambar dengan anak beru.

    Mbaba Belo Selambar

    Dalam tahapan ini, keluarga dan calon pengantin laki-laki datang melamar calon pengantin perempuan. Di saat ini pula, keluarga, calon pengantin, dan kalimbubu menentukan tanggal ngantin manuk.

    Nganting Manuk

    Dalam tahapan ini, para pelaksana pernikahan akan membicarakan tentang hutang adat pada pesta pernikahan dan merencanakan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Namun, hari pernikahan tidak boleh lebih 1 bulan sesudah melaksanakan tahapan ini.
    2. Hari Pesta Adat

    Kerja Adat

    Tahap ini adalah pelaksanaan pernikahan adat kedua mempelai. Pelaksanaan tahap ini biasanya dilakukan selama seharian penuh di kampung pihak perempuan. Dalam tahap ini, para mempelai diwajibkan untuk landek (menari).

    Persadan Tendi

    Pelaksanaan tahapan ini dilakukan pada saat makan malam sesudah kerja adat bagi para mempelai. Dalam pelaksaan tahap ini, para anak beru telah menyiapkan makanan bagi kedua pengantin. Tujuannya adalah memberi semangat baru bagi kedua mempelai.

    3. Sesudah Pesta Adat

    Ngulihi Tudung

    Ngulih tudung dilaksanakan 
    setelah 2-4 hari setelah hari kerja adat berlalu. Orang tua pihak laki-laki kembali datang ke rumah orang tua pihak perempuan. Orang tua pihak laki-laki datang membawa lauk-pauk berisi ikan dan ayam.

    Ertaktak

    Pelaksanaan tahap ini dilakukan di rumah pihak kalimbubu (pihak perempuan) pada waktu yang sudah ditentukan. Tahap ini biasanya seminggu setelah kerja adat. Pada tahap ini, dibicarakanlah uang keluar saat pergelaraan kerja adat dilaksanakan.

    Senin, 03 Februari 2020

    Istilah istilah dalam pernikahan adat karo

    Pernikahan adat Karo merupakan bagian dalam kehidupan masyarakat Karo yang dilakukan secara turun temurun.
    ada beberapa istilah dalam pernikahan adat karo , terdiri dari 3 kategori istilah,berikut penjabarannya :


    kategori Berdasarkan kekeluargaan ,yakni :

    1. Gancih Abu (Ganti Tikar)
    Gancih abu adalah suatu pernikahan seorang laki-laki menikahi saudara perempuan istrinya yang telah meninggal.

    2. Lako Man (Turun Ranjang)
    Lako man adalah suatu pernikahan seseorang laki-laki menikahi seorang perempuan. Perempuan dalam pernikahan ini adalah perempuan bekas istri saudara atau ayahnya yang telah meninggal. Lako man sendiri memiliki 3 jenis yaitu:
         1. Pernikahan Mindo Makan
    Mindo makan adalah suatu pernikahan yang seorang laki-laki dengan perempuan bekas istri saudara atau ayahnya yang telah meninggal.

         2. Pernikahan Mindo Cina
    Mindo Cina adalah suatu pernikahan yang seorang laki-laki menikahi seorang neneknya dalam tutur suku Karo. Dalam tutur suku Karo, yang dianggap nenek bukan hanya ibu dari ibu kandungnya.

         3. Kawin Ciken
    Kawin ciken adalah suatu pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan, yang dahulu adalah istri dari ayahnya ataupun saudaranya. Namun, dalam jenis pernikahan ini,sudah ada perjanjian sebelum ayahnya atau saudaranya meninggal.

    3. Iyan
    Iyan adalah suatu perkawinan seorang perempuan dengan saudara laki-laki suaminya karena ia belum melahirkan seorang anak laki-laki.

    4. Piher Tendi atau Erbengkila Bana
    Piher tendi adalah suatu pernikahan seorang perempuan menikahi pamannya dalam tutur suku Karo.

    5. Cabur Bulung
    Cabur bululung adalah suatu pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan, yang keduanya usianya tergolong remaja atau pemuda. Pernikahan semacam ini biasanya berlangsung karena melihat berdasarkan mimpi atau suratan takdir tangan dari seorang yang akan melangsungkan pernikahan ini.

    Kategori Berdasarkan hubungan kekeluargaan, sebagai berikut.

    1. Pertuturken
    Pertuturken adalah suatu pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang tidak erimpal atau perempuan yang memiliki marga yang sama dengan marga laki-laki.

    2. Erdemu Bayu
    Erdemu bayu adalah suatu pernikahan antara laki-laki dengan perempuan yang erimpal.

    3. Merkat Senuan
    Merkat senuan adalah suatu pernikahan yang terjadi antara seorang laki-laki yang menikahi seorang putri dari puang kalimbubunya. Pada umumnya, jenis pernikahan seperti ini sangat dilarang.

    4. La Arus
    La arus adalah suatu pernikahan antara laki-laki dan perempuan, yang dalam adat Karo dilarang. Salah satunya adalah pernikahna semarga.

    Kategori Nangkih (Kawin Lari)

    Nangkih adalah istilah kawin lari dalam suku Karo. Dalam nangkih, acara adat tetap dilakukan. Namun, istilah ini juga berlaku untuk pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang beda kampung.

    Demikian sedikit ulasan yang dapat saya bagikan,semoga bermanfaat.  Terima kasih.

    Sabtu, 01 Februari 2020

    MAKNA KERJA TAHUN SUKU KARO

    Kerja Tahun   adalah sebuah perayaan suku Karo di Kabupaten Karo. Konon kerjatahun tersebut merupakan kegiatan rutin setiap tahun yang biasanya dilaksanakan setelah acara menanam padi di sawah selesai. 

    Perayaan tersebut merupakan bagian dari ucapan syukur kepada sang Pencipta karena kegiatan menanam padi telah selesai. Teriring doa agar tanaman padi tersebut diberkati sehingga bebas dari hama dan menghasilkan panen yang berlimpah. 

    Momen yang melibatkan seluruh warga kampung tersebut biasanya juga dimanfaatkan muda-mudi sebagai ajang mencari jodoh. Setiap acara kerja tahun biasanya dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron yaitu acara tari tradisional Karo yang melibatkan pasangan muda-mudi. 

    Setiap kecamatan di Tanah Karo merayakan merdang merdem pada bulan yang berbeda. Saya ambil contoh ,Kecamatan Munte merayakan kerja tahun pada hari ke-26 beraspati medem kalender Karo yang biasanya jatuh di bulan juli.

    Konon, pesta sekampung tersebut sebegitu meriahnya sehingga lama perayaannya sampai enam hari di mana setiap hari mempunyai makna yang berbeda:

    Berikut penjelasannya 

    Hari pertama, cikor-kor.
    Hari tersebut merupakan bagian awal dari persiapan menyambut kerja tahun yang ditandai dengan kegiatan mencari kor-kor, sejenis serangga yang biasanya ada di dalam tanah. Umumnya lokasinya di bawah pepohonan. Pada hari itu semua penduduk pergi ke ladang untuk mencari kor-kor untuk dijadikan lauk makanan pada hari itu.

    Hari kedua, cikurung.
    Seperti halnya pada hari pertama hari kedua ditandai dengan kegiatan mencari kurung di ladang atau sawah. Kurung adalah binatang yang hidup di tanah basah atau sawah, biasa dijadikan lauk oleh masyarakat Karo.

    Hari ketiga, ndurung.
    Hari ketiga ditandai dengan kegiatan mencari nurung, sebutan untuk ikan, di sawah atau sungai. Pada hari itu penduduk satu kampung makan dengan lauk ikan. Ikan yang ditangkap biasanya ikan mas, lele atau sebakut, kaperas, belut.

    Hari keempat, mantem atau motong.
    Hari tersebut adalah sehari menjelang hari perayaan puncak. Pada hari itu penduduk kampung memotong lembu, kerbau, dan babi untuk dijadikan lauk.

    Hari kelima, matana.
    Matana artinya hari puncak perayaan. Pada hari itu semua penduduk saling mengunjungi kerabatnya. Setiap kali berkunjung semua menu yang sudah dikumpulkan semenjak hari cikor-kor, cikurung, ndurung, dan mantem dihidangkan. Pada saat tersebut semua penduduk bergembira. Panen sudah berjalan dengan baik dan kegiatan menanam padi juga telah selesai dilaksanakan. Pusat perayaan biasanya di alun-alun atau biasa disebut los, semacam balai tempat perayaan pesta. Acara disitu dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron di mana muda-mudi yang sudah dihias dengan pakaian adat melakukan tari tradisional. Perayaan tidak hanya dirayakan oleh penduduk kampung tetapi juga kerabat dari luar kampung ikut diundang menambah suasana semakin semarak. Pada hari itu pekerjaan paling berat adalah makan. Karena setiap kali berkunjung ke rumah kerabat aturannya wajib makan.

    Hari keenam, nimpa.
    Hari itu ditandai dengan kegiatan membuat cimpa, makanan khas Karo, biasa disebut lepat. Cimpa bahan dasarnya adalah tepung terigu, gula merah, dan kelapa parut. Cimpa tesebut biasanya selain untuk hidangan tambahan setelah makan. Tidak lengkap rasanya kerja tahun tanpa kehadiran cimpa. Untuk kecamatan lain di Tanah Karo kegiatan nimpa diganti dengan ngerires yaitu acara membuat rires yang dalam bahasa indonesia disebut lemang. Cimpa atau lemang daya tahannya cukup lama, masih baik untuk dimakan meski sudah dua hari lamanya. Oleh karena itu cimpa atau rires cocok untuk dijadikan oleh-oleh bagi tamu ketika pulang.

    Hari ketujuh, rebu.
    Hari tersebut merupakan hari terakhir dari serangkaian pesta enam hari sebelumnya. Pada hari tersebut tidak ada kegiatan yang dilakukan. Tamu-tamu sudah kembali ke tempat asalnya. Semua penduduk berdiam di rumah. Acara kunjung-mengunjungi telah selesai. Pergi ke sawah atau ladang juga dilarang pada hari itu. Seperti halnya arti rebu itu sendiri yang artinya tidak saling menegur, hari itu adalah hari penenangan diri setelah selama enam hari berpesta. Beragam kesan tinggal melekat dalam hati masing-masing penduduk kampung. Hari besok telah menanti untuk kembali melakukan aktivitas sebagaimana hari-hari biasanya.

    Demikian beberapa pengetahuan yang dapat saya bagikan,semoga bermanfaat.Terima kasih.

    Selasa, 28 Januari 2020

    Kalender karo


    Kalender Suku Karo mempunyai nama-nama tanggal, hari, dan bulan serta pembagian waktu, demikian juga nama-nama dari arah mata angin. Satu tahun dihitung 12 bulan, dan 1 bulan dihitung 30 hari.

    Nama nama bulan suku karo

    Adapun nama-nama bulan dan binatang atau benda apa yang bersamaan dengan bulan bersangkutan adalah sebagai berikut:
    1.Bulan Sipaka sada merupakan bulan kambing
    2.Bulan Sipaka dua merupakan bulan lembu
    3.Bulan Sipaka telu merupakan bulan gaya (cacing)
    4.Bulan Sipaka empat merupakan bulan padek (katak)
    5.Bulan Sipaka lima merupakan bulan arimo (harimau)
    6.Bulan Sipaka enem merupakan bulan kuliki (elang)
    7.Bulan Sipaka pitu merupakan bulan kayu
    8.Bulan Sipaka waluh merupakan bulan tambok (kolam)
    9.Bulan Sipaka siwah merupakan bulan gayo (kepiting)
    10.Bulan Sipaka sepuluh merupakan bulan belobat, baluat atau balobat (sejenis alat musik tiup)
    11.Bulan Sipaka sepuluh sada merupakan bulan( batu)
    12.Bulan Sipaka sepuluh dua merupakan bulan binurung (ikan).

    Selanjutnya nama nama hari suku karo

    Nama-nama hari pada suku Karo apabila diperhatikan banyak miripnya dengan kata-kata bahasa Sanskerta. Setiap hari dari tanggal itu mempunyai makna atau pengertian tertentu. Oleh karena itu apabila seseorang hendak merencanakan sesuatu, misalnya keberangkatan ke tempat jauh, berperang ke medan laga, memasuki rumah baru dan berbagai kegiatan lainnya. selalu dilihat harinya yang dianggap paling cocok. Di sinilah besarnya peranan "guru si beloh niktik wari" atau orang tua yang pintar melihat hari dan bulan yang baik dan serasi, yang dengan perhitungannya secara saksama, ia menyarankan agar suatu acara yang direncanakan dilakukan pada hari X.

    Adapun nama yang 30 dalam satu bulan adalah sebagai berikut:
    1.Aditia
    2.Suma
    3.Nggara
    4.Budaha
    5.Beras pati
    6.Cukra enem
    7.Belah naik
    8.Aditia naik
    9.Sumana siwah
    10.Nggara sepuluh
    11.Budaha ngadep
    12.Beras pati tangkep
    13.Cukera dudu (lau)
    14.Belah purnama raya
    15.Tula
    16.Suma cepik
    17.Nggara enggo tula
    18.Budaha gok
    19.Beras pati
    20.Cukra si 20
    21.Belah turun
    22.Aditia turun
    23.Sumana mate
    24.Nggara simbelin
    25.Budaha medem
    26.Beras pati medem
    27.Cukrana mate
    28.Mate bulan ngulak
    29.Dalan bulan
    30.Sami sara

    #situsdunia #misteri #arkeologi #penemuankerangka #peninggalansejarah #kotatua #arkeology #kotawisata #pariwisata #wisatabali #tourandtravel #keajaibandunia #tempatangker #misteri #gaib #bendapusaka
    #gameonline #gamepc #gameoffline #apkgame #downloadlagu #mp3terbaru #savekpk

    APA itu mbaba belo selambar (adat karo)

    Mbaba Belo Selambar yang berarti "membawa sirih selembar" adalah salah satu ritual sebelum pernikahan dalam suku Karo. Ritual...